Isu Pertembungan Sosial dalam Novel Ke Hujung Usia Berdasarkan Teori Konflik Fungsional Coser

  • Umairah Shafei Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (Aswara)

Abstract

Kajian ini bertujuan memahami bentuk-bentuk konflik sosial dalam novel Ke Hujung Usia (2018) karya A. Rahman C.M. berdasarkan Teori Konflik Fungsional Lewis A. Coser yang meletakkan konflik sebagai indikator suatu hubungan yang sihat dalam pembentukan sesebuah struktur masyarakat. Pertembungan berlaku antara watak-watak dalam novel tersebut seperti Tuk Aki, Tuan Guru Haji Munir, pegawai-pegawai Pejabat Daerah, Rasol (Setiausaha Politik Menteri Besar), Umar yang mewakili para pelajar di Pondok Haji Hamid. Konflik antara watak-watak tersebut memberikan implikasi yang positif kepada integrasi, kesepakatan serta kekuatan kelompok dalam kalangan para pelajar dan kedudukan Tuk Aki sendiri sebagai mudir di pusat pendidikan agama tersebut. Berdasarkan pandangan Coser, konflik tidak bersifat negatif kerana pertembungan kelompok luar merupakan peristiwa normal yang sebenarnya dapat memperkuat struktur sosial. Dengan hal yang demikian, Coser menolak pandangan bahawa ketiadaan konflik sebagai indikator kepada kekuatan dan kestabilan sesuatu hubungan. Berdasarkan pemikiran Coser, konflik Tuk Aki dan kelompok luar telah membantu mengukuhkan hubungan struktural, selain meningkatkan integrasi sesama pelajar yang dipimpin oleh Umar. Tahap kesepakatan kelompok sosial tersebut wujud kerana sesebuah konflik memiliki komunikasi dua hala dan peranan injap keselamatan sebagai medium untuk mengawal konflik yang peranannya dimainkan oleh Tuk Aki.


Kata Kunci: konflik fungsional, kelompok dalam, kelompok luar, indikator, injap keselamatan


Abstract


This research intends to prove social conflict in the novel Ke Hujung Usia (2018) by A. Rahman C.M. based on Lewis A. Coser's Functional Conflict Theory, which places conflict as an indicator of a healthy relationship in the social structure. The conflicts presented between characters in the novel include clashes involving Tuk Aki, Tuan Guru Haji Munir, District Office officials, Rasol (the Political Secretary of the Chief Minister), and Umar, who represents the students at Pondok Haji Hamid, and others. The conflicts between the characters have a positive influence on the integration, consensus and strength of the in-group among the students, and on the position of Tuk Aki himself, as the administrator of the centre of religious education. Based on Coser's theory, conflict is not negative because the clashes of out-group are normal due to the positive impact on the strength of social structure. Thus, Coser rejected the argument that absence of conflict is an indicator of the strength and stability of a relationship. Based on the thought of Coser, the conflict between Tuk Aki and the out-group help to strengthen structural relations, in addition to enhancing the integration of the students who are led by Umar. The social group consensus exists because there is two-way communication in the conflict, and because Tuk Aki plays the role of the safety valve to control the conflict.


Key Words: functional conflict, in-group, out-group, indicator, safety valve

Published
2020-12-01
How to Cite
SHAFEI, Umairah. Isu Pertembungan Sosial dalam Novel Ke Hujung Usia Berdasarkan Teori Konflik Fungsional Coser. Malay Literature, [S.l.], v. 33, n. 2, p. 243-264, dec. 2020. ISSN 2682-8030. Available at: <http://jurnal.dbp.my/index.php/MalayLiterature/article/view/8016>. Date accessed: 22 apr. 2021. doi: https://doi.org/10.37052/ml33(2)No5.